Feeds:
Tulisan
Komentar

Archive for September, 2011

Bulan ini kurang lebih saya sudah menerima 3 kali tawaran kerja, Alhamdulillah. Tawaran yang pertama datang dari kawan SMP di seberang pulau untuk membantunya mengurus manajemen perkebunan kelapa sawit milik keluarganya, kemudian tawaran kedua datang dari teman KKN dulu, tawaran itu berupa permintaan agar saya menempati posisi manager operasional Semarang di perusahaan ayahnya yang rekanan Pertamina, lalu tawaran terakhir yang baru saja tadi sore saya terima datang dari teman kuliah, tawaran ini untuk mengisi posisi sebagai wartawan di sebuah harian grup Jawa Pos di Tangerang Selatan.

Sekali lagi, saya ingin mengucap syukur yang mendalam kepada Sang Penggenggam segala urusan; Allah Rabbul Jalil, betapa Dia memudahkan urusan-urusan saya, bahkan di saat beberapa orang kesulitan dan pontang-panting mencari pekerjaan, justru pekerjaan itu yang datang sendiri menghampiri saya.

Lalu mana kah yang saya terima di antara ketiga tawaran itu?

Ini menjadi persoalan pelik, yang bagi saya lebih pelik dari pada meracik secangkir machiato atau espresso. Apa pasal?

Begini temans, kurang lebih tiga tahun belakangan ini, hampir separuh dari energi saya gunakan untuk membangun sebuah impian masa depan, sesuatu yang andai tekad tidak kuat, sudah saya tinggalkan jauh-jauh hari. Akan tetapi, walaupun terkadang harus sambil merangkak, sampai detik ini saya masih berusaha bertahan dan yakin bahwa semua pengorbanan dan jerih payah saya -bersama teman-teman yang lain- tidak akan sia-sia, sesuatu yang manis pasti akan saya rasakan setelah bermandikan peluh dan darah, hhe.

Sesuatu itu adalah Partikel, Perusahaan -yang semoga selalu- kreatif yang saya rintis bersama beberapa orang sahabat 2 tahun yang lalu. Kalau ibarat bayi, Partikel ini lagi imut-imutnya, butuh perhatian ekstra buat terus mantau pertumbuhannya, kita di buatnya kadang gemes, ketawa sendiri, bahkan sesekali juga nangis sendiri. Partikel betul-betul “sesuatu banget” buat saya. *terserang virus syahrinisme*

Rasanya saya gak bisa buat meninggalkan Partikel tumbuh sendiri, walaupun saya yakin sebetulnya Mba Izur, Nico, dan Adit sebagai tim, rekan kerja, dan keluarga saya di Partikel bisa dengan baik menjaga dan merawat bayi ini. Selain itu, kewajiban saya kepada Investor juga yang membuat saya untuk tetap mendampingi Partikel. Walaupun hal yang saya sebutkan terakhir tadi sejujurnya bukan sesuatu yang memberatkan, karena itu adalah bentuk tanggung jawab saya yang memang tidak bisa di tawar.

Ini lah yang menyebabkan saya berat untuk menerima ketiga tawaran yang sebetulnya sangat menggiurkan, betapa tidak, mereka berani “pasang harga tinggi” untuk memboyong saya *serasa jadi pemain bola yang ikut bursa transfer ni gw, hehe*. Serius, kalau di lihat dari nominal yang akan saya dapatkan jika bergabung dengan mereka, jelas jelas jauh dari yang Partikel -untuk saat ini- berikan kepada saya, apa lagi tawaran terakhir, yakni tawaran sebagai wartawan. OMG! itu cita-cita gw sedari dulu, nenteng2 tas lusuh, kamera, notebook dan pulpen yang tergantung di leher, lari ke sana-kesini, berpanas-panas ngeliput berita, ah, itu cita-cita masa lalu saya.

Tapi, kenapa semua tawaran itu datangnya sekarang? kalo kata Rahmi di film Cintapuccino mah; kenapa sih elo baru dateng sekarang? kenapa nggak setahun lalu, kenapa enggak enam bulan yang lalu, kenapa enggak sebulan yang lalu? besok gue mau nikah, Mo.. *abaikan kalimat terakhir, hahaha* Iya deh, kenapa tawaran-tawaran itu datang sekarang ini, saat Partikel sedang banjir kerjaan sampai akhir tahun, kalender event Partikel itu sudah full sampai akhir tahun, bahkan awal 2012 pun sudah masuk waiting list pula!

Allah karim, saya betul-betul butuh bashiroh alias pandangan mata hati yang tajam, agar bisa membaca apakah tawaran-tawaran itu merupakan cobaan terhadap cinta dan impian besarĀ  saya yang bernama Partikel, atau justru bentuk dari “pertolongan dan skenario” yang telah Allah siapkan untuk saya?

Blank!

Blank!

Padahal istikhoroh usai ditunaikan, musyawarah pun usai dilakukan. Tapi tetap saya belum dapat kepastian dan penglihatan.

Atau bisa jadi, itu merupakan tanda bahwa saya tetap harus berada di Partikel?

Andai memutuskan semua ini semudah menghabiskan secangkir kopi di hari yang gerimis, tentunya saya nggak akan menulis note sepanjang ini. hahaha.

Sekarang saya cuma mau memberikan yang terbaik buat Partikel aja, bekerja dan berkarya sebaik-baiknya. Itu saja. Lalu tawaran-tawaran itu biarlah Allah yang memberikan jawabannya.

minum kopi

Wonocatur, 22.09.2011, alias 2 hari lagi jelang workshop graphology *tetep promo yahh, hhe*

Dhieaje.

Read Full Post »

Belakangan saya jadi sering memikirkan kematian, bukan tentang kapan waktu kematian itu datang. Saya merasa khawatir jika kematian itu datang dalam waktu dekat ini, sedangkan bekal saya belum ada untuk perjalanan kekal di akhirat kelak.

Kematian itu bisa datang kapan saja bukan?

Lalu saya sudah siap apa?

Dua puluh tahunan hidup saya kalau di persentase mungkin lebih banyak di pakai untuk kelalaian, padahal satu hari di akhirat itu kurang lebih seribu tahun di dunia (lihat Surat Al Hajj (22) ayat ke 47), kalau begitu jangan-jangan bekal saya hanya akan habis dalam waktu sekian detik saja di akhirat :crying:

Kalau bukan karena rahmat (kasih sayang) Allah, mungkin saya gak bisa selamat dalam perjalanan kekal itu..

Tidak cukup sampai di situ saja, saya pun jadi berpikir apa yang nanti akan saya tinggalkan bagi orang yang ada di sekeliling. Sebuah kebermanfaatan kah? atau justru sebaliknya, orang-orang akan senang dengan kematian saya karena terbebas dari penderitaan (na’udzubillah)

Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat kepada kita semua, sehingga kita bisa terus ada dalam jalur yang di ridhoi-nya, dan pada akhir menghembus nafas, Allah mengkaruniakan Khusnul Khatimah, sebuah karunia yang sangat berharga tidak bisa ternilai oleh apapun. Aamiin.

Sama-sama mendoakan dan mengingatkan ya teman.

 

Wonocatur, 21092011

Dhieaje

 

Read Full Post »

Saya lupa kapan tepatnya pertama kali mendengar kalimat “Asikin Aja Sih”, tapi belakangan kalimat ini jadi seperti mantra yang sering saya ucap berulang-ulang. Asikin aja sih, kalimat enteng tapi berefek dahsyat, lebih dahsyat dari setelah menenggak minuman laki, hehe.

“Apanya yang dahsyat?” mungkin begitu tanya sebagian orang.

Oke, pelan-pelan yesss, saya bakal nunjukin kedahsyatan kalimat ini. Setidaknya ada dua alasan kenapa saya jadiin kalimat “Asikin Aja Sih” sebagai mantra..

Pertama, namanya hidup, gak semua yang terjadi itu sesuai sama keinginan dan rencana, kadang kenyataan dan harapan justru jauh berbeda. Nah kalau udah begitu, seringkali yang keluar adalah keluhan, penyesalan, trus misuh-misuh alias ngegerendeng dalam bahasa Betawinya.

Gak sedikit loh orang yang jadi stress lantaran hasil kerjanya gak sesuai sama yang diharapkan. Padahal manusia kan tugasnya cuma berusaha semaksimal mungkin, nah perkara hasil mari kita serahkan aja sama Tuhan, setuju? Karena sangat boleh jadi hasil yang mengecewakan itu sebetulnya lantaran kita belum maksimal berusaha.

“Asikin Aja Sih” kemudian ambil peran dimana?

Buat orang yang mengenal konsep tawakal (berserah diri) sama Tuhan, harusnya paham bahwa sesuatu yang terjadi setelah kita berusaha adalah takdir-Nya, dan takdir gak perlu di sesali. Tuhan punya seribu satu hikmah yang bakal kita petik dikemudian hari dari takdir yang terjadi. Asikin aja sih akan membantu kita menjadi orang yang tawakal, dengan bilang Asikin Aja, sebetulnya kita sedang memprogram alam bawah sadar untuk menerima yang terjadi sebagai sebuah kenyataan, lalu segera bangkit dan bergerak menyongsong harapan dan kesempatan yang masih terbentang. Keren kan?

Kedua, Masyarakat urban memang sangat akrab sama yang namanya stres. Stres karena deadline tugas, stres karena jalanan macet, stres karena rekan kerja nyebelin, bahkan stres karena mengalami kebocoran anggaran sebelum gajian, hehe.

Stres karena deadline biasa mengakibatkan everyday is hectic time, waktu buat memanusiakan diri jadi berkurang. Dengan “Asikin Aja” setidaknya beban jadi berkurang, toh sebetulnya apa yang kita lagi kerjain itu adalah sesuatu yang udah biasa kita lakuin (nah loh, bingung kan? sama, saya juga bingung, hhe) jadi harusnya gak perlu lagi stres, asikin aja, bawa seru aja. Percaya deh, kalau deadline di bawa asik, pasti bakal cepet selesai, trust me! :)

Stres karena jalanan macet mengakibatkan hampir separuh dari penghuni kebun binatang pindah ke jalan raya, di tambah polusi suara karena klakson yang bersahut-sahutan. Asikin aja, bikin terjebak di kemacetan jadi hiburan, kita bisa ngeliatin berbagai macam model orang dengan bebagai kendaraannya, anggap aja lagi di show room kendaraan berbagai merek, sebelah kanan ada Toyata, kiri ada Daihatsa, belakang ada Ferd, depan ada Nassan. Seru kan tuh, siapa tau aja nanti sesampainya di kantor dapet bonus dadakan dari bos buat beli mobil baru, jadi kita udah punya referensi mau beli mobil apa. Menarik kata mas Prie GS kemarin di twitternya, beliau bilang “Ini bukan kemacetan! Ini sekadar jalan pelan agar semua kebagian” Nyesss deh hati jadinya.

Stress karena teman yang nyebelin juga kalau nggak di menej bisa makan hati loh, apa lagi tiap kalau tiap hari ketemu, wihhh gak kebayang deh, bisa abis lama-lama tuh hati di makanin.Karenanya, asikin aja lagi.. anggap aja orang itu fans yang melakukan bermacam cara untuk meraih perhatian kita, jadi tingkah laku nyebelinnya karena emang dia lagi caper. hehehe. Atau kalau mau lebih ekstrim lagi, anggap aja dia badut, lucu dan menggemaskan, tapi kadang nyebelin juga. Asik kan? Marah dan sebelnya jadi kelaut dehh, Asik deh..

Oke, rasanya saya udah kebanyakan nulis. Sekarang waktunya praktek ya. Gak usah dengerin apa kata orang kalau kata-kata mereka itu negatif, asikin aja pokoknya.

Salam Asik.

Asikin Aja

Dhieaje

Yk, 20/09/2011

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.731 pengikut lainnya.