Voila, Tembus Target! -Tentang impian yang akhirnya menjadi kenyataan

Bukan, ini bukan cerita tentang target penjualan karena gua bukan marketing. hehehe

Jadi ceritanya, sejak gua memutuskan untuk benar-benar mundur dari media mainstream, lantaran muak terlibat dalam politik media yang semakin menjijikan.

Gua memutuskan untuk serius mewujudkan impian membangun sebuah jaringan media Islam yang bisa melakukan pembelaan terhadap persoalan umat dan yang terpenting, bisa berdiri di atas semua golongan. Tidak sektarian.Read More »

Iklan

Returns!

Bum! Tiba-tiba terjadi ledakan di dalam kepala, otak yang selama ini sesak dengan berbagai perkara meminta penyaluran, mendesak perkara yang remeh-temeh di dalamnya dikeluarkan, agar banyak tersisa ruang lapang untuk hal yang memang fundamental.

Maka jadilah postingan ini, sebuah usaha untuk tamasya intelektual, setelah dua tahun kurang lebih tak pernah saya lakukan.Read More »

Apa Sikap Hidup Lu?

“Kalaupun harus mati, matilah dengan terhormat, sebagai orang yang memiliki sikap”

Term & conditions: Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan apalagi menghakimi pihak tertentu, murni sekadar curahan hati & pemikiran yang punya blog.

Ada idiom yang pernah gw baca, katanya kemewahan terakhir yang dimiliki oleh anak muda adalah idealisme. Awalnya gw berpikir itu terlalu berlebihan, tapi kemudian, waktu mengajarkan sama gw, bahwa idiom itu ada benarnya.Read More »

Lukis-Melukis

Rasanya gw mulai tertarik sama lukis-melukis, selama ini gw emang punya beberapa lukisan abstrak hadiah dari beberapa kawan sih, ya tapi itu cuma menggantung di dinding kamar aja, gak begitu gw perhatiin, mungkin cuma sekadar jadi pemanis dekorasi aja. Tapi gak tau kenapa beberapa waktu terakhir ini gw jadi sering merhatiin salah satu lukisan itu, lukisan kecil yang sepertinya hanya berukuran 10×10 cm. Lukisan ini hadiah dari kawan gw yang emang hobi ngoleksi karya seni, termasuk lukisan salah satunya.

Lukisan ini sebenarnya cuma berupa warna yang bertumpuk-tumpuk, kemudian menciptakan semacam spektrum. Nah, pas gw lama-lama sering merhatiin lukisannya, kok seperti ada ketertarikan ya, semacam senang, damai, dan tentram. Hemm, jujur deh, sebenarnya gw emang gak bakat dalam hal lukis melukis, gambar menggambar, apalagi kalau berupa sebuah objek. Jadi ceritanya dulu pernah gw nyoba ngegambar ikan, eh orang malah ngiranya itu bebek, terus pas gw nyoba ngegambar bebek, masa disangka sama orang, itu gambar mobil, sedih kan ya? hehehe.

Mungkin karena gw gak bisa menggambar (red:melukis) itu lah akhirnya gw sangat mengapresiasi orang yang expert dalam bidang tersebut, ada semacam rasa kagum sama mereka. Makanya walaupun gak bisa menggambar, tapi gw punya banyak temen yang jago gambar, udah gitu kemaren waktu kuliah masuk jurusan yang kental sama gambar-menggambarnya pula, yakni advertising. Walaupun setiap ketemu sama mata kuliah desain grafis, deskomvis, dan kawan-kawannya gw selalu gemeteran, dan lulus mata kuliah tersebut dengan nilai maksimalnya B+, yang sangat boleh jadi gw dapetin karena belas kasihan dosen-dosennya :p

Beneran deh, gw kagum dan salut sama orang-orang yang lihai banget mengkomposisikan berbagai garis dan warna sehingga jadi sebuah karya yang enak dilihat mata, dan pada beberapa lukisan, entah kenapa gw ngerasa gak cuma enak dilihat sama mata, tapi juga nikmat dikonsumsi jiwa. Alhasil gw paling mentok cuma jadi penikmat lukisan-lukisan itu, dengan sesekali komentar yang ngawur tentang lukisannya, maklum gak pernah belajar matakuliah kritik seni, hehehe.

Terus inti tulisan ini apaan sebenernya, dul?

Hahaha, kalau elu nanya gw, gw nanya siapa dong?

Ah koplak dasar, sebenernya postingan kali ini cuma pengen bilang, kalau gw suka sama lukisan, tapi lukisan yang bukan berobjek manusia atau makhluk hidup, karena selain agama gw ngelarang buat bikin gambar sesuatu yang bernyawa, buat gw jenis lukisan yang berobjek manusia atau mahkluk hidup seperti hewan itu juga sulit buat dinikmati secara bebas, imajinasi gw seperti terpentok pada gambar yang ada di dalam frame-nya. Maka dari itu, gw lebih suka lukisan yang abstrak, lukisan alam, dan sejenisnya, lebih bebas menafsirkan.

Terus, gw rencananya pengen belajar ngelukis nih, kali-kali aja bisa, tapi ngelukis abstrak, biar gak ada yang salah tafsir lagi sama lukisan gw nanti, kan nyesek juga semisal udah capek-capek bikin lukisan ayam eh malah dikiran lukisan beruang *curcol*

Yah, belajar kan boleh aja, nyoba hal-hal yang baru gitu deh. Apalagi kayanya tenaaaang banget klo ngeliat pelukis lagi di depan kanvasnya, sepertinya mereka punya kehidupan sendiri yang asik. Ya mungkin sama asiknya seperti penulis yang sedang berimajinasi di hadapan komputernya, apa penyanyi yang sedang menuangkan ide dalam lirik-liriknya. Doain ya biar gw jadi belajar ngelukisnya, entar kalau jadi, lukisan pertama gw pasti gw posting di sini deh, janji 🙂

Bang Dudy

Yogyakarta, 05/10/2012

Nasihatilah Aku

Kalian masih seperti dulu kawan, muda dan pemberani

Nasihatilah aku yang mulai menua dan menjadi pengecut

berlindung dibalik kebutuhan perut

Kalian masih lantang berteriak pada setiap kesempatan

teriakan kalian masih menjadi pengganggu tidur tiran

teriakan kalian masih cukup menakutkan bagi musuh-musuh perjuangan

dan aku hanya mendengarkan teriakan kalian, dari balik ruang berAC

terangguk-angguk mencoba memahami gejolak yang terjadi

Waktu banyak mengubah kejadian

tapi ternyata waktu tak kuasa mengubah kalian, kawan

usia mungkin menua dan bertambah

tapi tidak dengan semangat kalian

revolusi nyatanya masih menjadi cita-cita besar kalian,

ya, cita-cita besar kita, dulu.

Aku kini terduduk jatuh

takluk oleh realitas yang kuciptakan sendiri

terkukung dalam kotak kecil bernama kenyataan

aku ternyata tak sekuat kalian

aku bukan lagi kamerad yang sanggup menahan beban perjuangan

Kalian masih seperti dulu kawan, muda dan pemberani

Nasihatilah aku yang mulai menua dan menjadi pengecut

berlindung dibalik kebutuhan perut

Percayalah, aku butuh nasihat kalian

aku jangan kalian tinggalkan.

Bang Dudy

Yogyakarta, 03/10/2012

Sebentar Lagi Akan Terbit Fajar~

Seorang lelaki tidak pernah menyesali apa-apa yang sudah dilakukannya ~Abah

Satu sore yang cukup hangat di akhir tahun lalu, saya pernah bercerita kepada Abah tentang kejatuhan saya yang bergulung-gulung, kegagalan yang bertubi-tubi. Dunia hari itu seolah tak lagi memberikan peluang dan jalan keluar bagi persoalan-persoalan saya yang tali-temali.  Saya hari itu pulang sebagai orang yang kalah, banyak penyesalan yang terucap,penyesalan akan sebuah tindakan yang ternyata hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ya, pada titik itu saya betul-betul menyesali banyak hal yang telah saya lakukan.

Kami bukan lah anak dan ayah yang sering ngobrol ringan sore hari di teras rumah, hubungan saya dengan abah seringkali terasa sangat formal.  Tapi saya seringkali kembali kepada beliau ketika seluruh jalan yang saya ambil buntu, dan beliau selalu punya jalan keluarnya, beliau selalu punya cara untuk membuat anak lelaki pertamanya kembali sadar bahwa kehidupan bukan hanya kemarin dan hari ini, masih ada satu menit ke depan dan kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Sore itu, seperti biasa Abah mendengarkan seksama seluruh keluh saya. Usai saya bicara, beliau angkat suara, bercerita  ” Dulu, Abah pernah hampir masuk jadi PNS di Departemen Agama pusat, tanpa harus repot test sana sini, karena Kyai Abah yang langsung merekomendasikan. Tapi entah kenapa saat itu kok males rasanya harus datang ke kantor Depag, jadi aja hari wawancara abah gak datang. Kalau saja abah datang, mungkin sekarang udah jadi menteri agama kali” Beliau berkelakar.

“Saat itu banyak yang menyesalkan keputusan Abah, mereka bilang ini.. mereka bilang itu.. tapi abah keukeuh aja sama pendirian, gak pengen jadi PNS. Tapi kemudian tahun demi tahun berganti, ketika melihat banyak teman-teman abah yang masuk ke Depag udah pada sukses secara duniawi, ya sempet juga sih ada penyesalan di hati” Imbuh beliau.

“Sampai pada satu titik Abah kaya di ingatkan sama Allah bahwa penyesalan itu terlarang dalam agama kita, kecuali menyesali dosa dan perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Abah buru-buru istighfar, khawatir dari penyesalan itu timbul jadi berandai-andai, andai saja dulu Abah datang wawancara, andai saja dulu begini, andai saja dulu begitu. Kalau udah berandai-andai, itu kesalahan fatal!”

  “Kita gak pernah tahu, apa yang akan terjadi besok bukan? Penyesalan itu timbul dari ketidakpuasan kita sama apa yang dulu pernah kita lakuin. Laki-laki harusnya, gak pernah menyesali apa-apa yang udah dilakuin, konsekuensi dari sebuah keputusan ya berani nanggung resiko dong. Kalau gak mau jatuh jangan belajar naek sepeda, tapi kalau gak belajar naek sepeda, nanti gak akan bisa naek motor. Kalau gak jatuh dulu gak akan bisa naek sepeda.”

“Berani nanggung resiko dari setiap keputusan adalah bagian dari tanggung jawab itu sendiri,  sekarang kamu cerita ini itu, jatuh lah, kena banyak masalah lah, usaha bangkrut lah. Itu semua kecil! Kamu punya yang lebih besar dari semua masalah-masalah kamu, Allah Maha Besar dari segalanya,yakinin itu. Bersama kesulitan itu ada kemudahan, bersama loh ya, kalimat aslinya ma’a, bukan ba’da alias setelah. Fa inna ma’al usri yusro, inna ma’al usri yusro. Itu janji Allah, tapi kemudahan yang Allah janjiin ada syaratnya, perhatiin ayat selanjutnya: Fa idza faraghta fansob,  syaratnya kalau udah selesai sama satu pekerjaan, cepet-cepet kerjain yang tugas yang lain, dengan sungguh-sunguh. Ini artinya Allah nyuruh kita jangan terpaku sama yang udah berlalu, cepetan bergerak susun langkah baru. Nah, pamungkasnya Allah bilang: wa ila robbika farghob,  hanya kepada Allah lah kita harus berharap. Ikhtiar wajib, tapi tawakal tentang hasilnya itu lah yang nyempurnain ikhitar kita” Jelas Beliau.

Yap, sore itu tiba-tiba dada saya menjadi sangat lapang, saya yakin bahwa Allah bermaksud akan mengangkat derajat siapa aja yang Allah cintai melalui ujian. Para nabi pun ujian-nya gak kira-kira bukan? ada yang anak isterinya sendiri ingkar, ada yang harus di telan dulu sama ikan, ada yang di uji dengan kemandulan menahun, bahkan kanjeng nabi Muhammad sendiri ujiannya pun tak terkira. Tapi apa hasilnya ketika bersabar dan terus bergerak, terus melangkah? Allah kasih hadiah berupa kemuliaan di hadapan seluruh  penduduk langit dan seluruh penduduk bumi 🙂

Dengan ujian kita belajar, dengan cobaan kita jadi kuat. Satu yang gak boleh hilang dari kita, optimisme alias harapan bahwa akan ada masa yang menyenangkan. Lihat deh, kalau malam udah sangat gelap, berarti sebentar lagi bakal terbit fajar kan? 🙂

sumber gambar: landscapeshutter.blogspot.com
sumber gambar: landscapeshutter.blogspot.com

Bang Dudy

Yogyakarta, 30/09/2012

Kota Impian

Tiap orang pasti punya kota tempat tinggal impian deh, ada yang pengen tinggal di dataran tinggi kaya pegunungan, tapi ada juga yang pengen tinggal di dataran rendah semisal daerah pesisir. Tapi ada juga loh yang memimpikan untuk tinggal dan menghabiskan hidup di sebuah kota metropolitan.

Jadi ya, dalam perjalanan menuju Jakarta dari Jogja tempohari, tetiba kereta yang saya tumpangi berhenti di sebuah stasiun kecil yang saya baca dari plangnya bernama “Kedung Gedeh” . Entah kereta memang biasa berhenti di stasiun ini untuk silang atau hanya sebuah kebetulan, saya gak tahu deh, beneran. Karena seumur hidup bolak-balik Jakarta-Jogja atau sebaliknya, kalau perjalanan malam saya pasti terpejam, hehehe.

Nah, di Kedung Gedeh ini turunlah seorang penumpang perempuan, dan ajaibnya dia seperti kenal sama seluruh petugas stasiun, menyapa, salaman, karena memang stasiun udah sepi, maklum lepas tengah malam. Saya yakin kok, perempuan tadi bukanlah orang penting, dia orang biasa saja yang kemalaman disebuah stasiun kecil, tapi asik aja gitu ngeliat kehangatan yang terpancar dari tegur sapa antara dia dengan beberapa petugas stasiun, iya asik banget, bahkan seolah seluruh isi kota saling mengenal, saling peduli.

Menyaksikan adegan tersebut, saya jadi membayangkan, enak kali ya hidup disebuah kota kecil yang sejuk tapi juga hangat, fasilitas umumnya memadai, keamanannya terjaga, warganya sejahtera, tak ada sekat dan perbedaan antara yang berpunya dan yang tiada harta. Bahkan saya membayangkan, kota itu tanpa pemimpin secara formal, akan tetapi seluruh warganya teratur, sama rasa. Mungkin mirip-miriplah seperti gambaran kota Quebec dalam novel Ranah 3 Warna-nya bang Ahmad Fuadi.

sumber gambar: capture game tropico 3
sumber gambar: capture game tropico 3

Apa iya kota seperti itu hanya ada dalam angan, dalam novel dan dalam game?

Awalnya sih saya berpikir kalau kota tempat saya tinggal sekarang, Jogja adalah kota impian. Karena memang awal saya masuk ke kota ini tahun 2007, Jogja masih sangat nyaman. Sepeda masih menjadi moda transportasi pilihan sebagian besar mahasiswa dan warga Jogja,  penduduknya masih ramah -dalam artian yang sesungguhnya-, saya beberapa kali ditawari tumpangan motor oleh orang yang tidak saya kenal sebelumnya karena dulu saya pejalan kaki, belum lagi jika di persimpangan jalan misalnya ada dua kendaraan hampir bertabrakan, tidak ada makian  keluar, yang saya saksikan justru senyuman dari kedua pengendaranya, saling membungkuk meminta maaf, saling mempersilakan yang lain untuk bergerak duluan. Amazing!

Tapi akhir-akhir ini Jogja terasa tak senyaman dulu, jalan-jalan protokol mulai macet tiap jam berangkat dan pulang kerja lantaran bertambahnya volume kendaraan bermotor. Juga tidak terhitung berapa kali saya menyaksikan dan mendengarkan wajah yang adu garang, makian yang menjijikan manakala di persimpangan jalan ada dua kendaraan yang hampir bertabrakan. Tingkat kriminalitas juga sepertinya makin mengkhawatirkan ya, beberapa kawan bahkan saya sendiri pernah menjadi korban pencurian. Entah kemana perginya senyum ramah Jogja yang dulu 😦

Saya tidak sedang dalam posisi mengkritisi loh ya, kan saya cuma pengen sharing, betapa dulu Jogja pernah saya impikan menjadi tempat saya untuk menghabiskan sisa usia. Saya bahkan sudah sempat bikin surat pindah dari Depok untuk bikin KTP Jogja, tapi sampai hari ini entah kenapa belum saya urus pembuatan KTPnya. Mungkin karena mulai ada niat untuk mencari kota lain sepertinya, hehehe.

Ya itu tadi, sampai sekarang saya masih memimpikan tinggal di sebuah kota kecil dengan kondisi yang sudah saya sebutkan di beberapa paragraf sebelumnya. Kota dimana saya bisa menjadi diri sendiri tanpa harus takut penilaian dan pendapat orang lain, kota dimana penduduknya bisa berkembang sesuai “passion” masing-masing. Indahnya, bahkan hanya dengan menuliskannya saja, saya merasa damai, beneran deh 🙂

Kampung tempat lahir saya jelas sudah tidak mungkin (untuk saat ini), bukannya pesimis, tapi realistis aja. Condet, tempat saya lahir sekarang sudah jadi kota kecil yang juga tak nyaman lagi, seperti kampung-kampung di Jakarta pada umumnya, terdiri dari gang-gang sempit. Lapangan bola, kebun salak Baba Haji, dan jernih Ciliwung hanya tinggal cerita saja, semua sudah berganti dengan gedung-gedung tinggi, dan rumah-rumah kumuh di bantaran kali.

Pun begitu dengan Depok, tempat saya bertumbuh. Selain menjadi “tempat pelarian” orang-orang Betawi yang terusir dari kampungnya sendiri, Depok  sekarang sudah menjadi wilayah pemukiman kaum urban yang kesehariannya bekerja di Jakarta, Mall di mana-mana, jalan Margonda juga sepertinya tak pernah sepi. Padahal dulu sekitar awal tahun 1990-an waktu keluarga saya pindah ke Depok, belum ada Mall sama sekali. Bahkan lahan yang sekarang jadi Margo City pun masih berupa kebun bambu.

Ya, jalan untuk tinggal di kota impian sepertinya masih panjang. Selalu saja ada benturan antara modernisasi dengan tradisi. Kota nyaman tempat kita akan melepas lelah dan menghabiskan usia sepertinya masih harus dibangun dengan tekad yang lebih kuat.  Pembenahan sana-sini harus dilakukan di kota impian kita masing-masing. Tapi kita masih punya waktu loh untuk membangun kota impian kita masing-masing, dengan memulai kerja-kerja kecil yang berefek besar bagi kota kita, misal dengan memulai senyum dan memberi salam pada siapa saja yang kita temui. Sederhana kan ya? 🙂

 

Bang Dudy

Yogyakarta, 29 September 2012.

Bicara Jodoh

Jodoh itu memang rahasia Tuhan yang paling unik ya. Bayangin deh, kita gak pernah bisa benar-benar tahu siapa jodoh kita sebenarnya sampai datang akad nikah. Ada orang yang harus pacaran bertahun-tahun dulu sampai akhirnya memutuskan untuk menikah. Tapi ada juga yang baru kenal beberapa bulan, bahkan bertemu pun mungkin hanya satu atau dua kali eh pertemuan ketiga ternyata berlangsung di KUA, udah yakin alasannya. Nah, yang paling nyesek sih, udah bertahun-tahun pacaran, tapi ternyata nikahnya sama orang lain *no offense loh, sumpah ^_^*

Seperti puzzle, kadang kita emang harus gonta-ganti bagian dari keseluruhan puzzle buat mendapatkan gambar yang utuh, tapi orang yang cerdas seringkali hanya memerlukan satu atau dua sentuhan, kemudian gambar utuh yang indah langsung terlihat nyata.

Eh, believe or not, cara seorang bertemu jodohnya juga unik banget loh. Ada yang emang udah lama memendam rasa dari zaman sekolah, lalu baru berani mengungkapkan saat lulus kuliah. Ada yang awalnya musuh besar, tapi kok lama-lama jadi ngerasa kangen klo sehari aja gak berantem. Ada juga yang cinlok di tempat kerja sama bos-nya, sampai yang paling nyentrik adalah, gara-gara tabrakan di toko buku, tukeran akun twitter, mention-mentionan di twitter, DM minta pin BB terus nikah *yang ini kisah nyata temen gw*. Kita bisa ketemu jodoh di mana aja, lewat apa aja, lewat blog juga bisa kali *ngarep* hahaha.

Ada satu temen gw, sebut aja namanya Ojih. Ini orang lama gak ada kabar, tiba-tiba datang ke rumah terus ngasih undangan nikah, penasaran dong gw. Maka tanpa tunggu lama langsung gw tanya: “Ini calon lu orang mana, kok gw gak kenal?”  Apa jawab si Ojih ini: “Jangankan elu, gw aja kenalnya baru dua bulan”. Cengo gw, asli melongo! Ini orang baru kenal dua bulan udah berani mutusin buat nikah, sedangkan temen gw yang lain udah pacaran 4 tahun tapi gak nikah-nikah juga #kode. Ya sebetul-nya gak aneh-aneh banget sih, karena beberapa kawan yang memang aktif di kegiatan rohani Islam di kampus memang rata-rata begitu, dikenalkan sama ustadznya. Yang bikin gw melongo adalah, Ojih ini bukan lah orang yang aktif di kegiatan semacam itu sodara-sodara! Doi vokalis band skinhead yang terkenal brutal di panggung tapi shalat sama puasa Senin-Kamis nya rajin minta ampun.  Nah dilandasi rasa penasaran maka gw nanya lagi: “apa alasan lu, Jih nikah sama ni orang?”. Dengan santai Ojih langsung nyaut:Kalau elu udah bisa jadi diri sendiri di depan seorang wanita, maka jangan tunggu lama, cepetan lamar sebelum disikat orang. Itu yang mahal, men. Saat elu udah gak bisa bohong di depan seorang wanita, tandanya dia jodoh lu tuh. Lelaki itu emang terkenal jago bohong, dan sebenernya cewek juga suka di bohongin sama lelaki sesekali, tapi akan tiba saatnya ketika elu gak bisa bohong sama sekali di hadapan seseorang wanita, padahal kesempatan buat ngebokis itu ada, itu lah sebenarnya saat elu ketemu belahan jiwa yang selama ini elu cari. Itu yang gw rasain. Makanya gw yakin, gak pake lama langsung gw lamar!” Kemudian hening pemirsa, beneran hening karena gw mikiiiiir. Ini anak omongannya bener juga.

“Satu lagi, rasa nyaman. Frekuensi kalian seolah-olah sama tanpa perlu di setting. Sekarang apa yang mau di cari sih? Dunia udah mau kiamat, gw denger dari Habib Umar kalau kematian yang paling buruk adalah kematian seorang yang masih bujangan, nah loh. Gw sih ogah aja kalau gw mati nanti, gak ada anak sholeh yang ngedoain gw Lanjut Ojih.

Serius deh, speechless gw denger omongannya Ojih. Hikmah memang bisa kita ambil dari siapa aja.

sumber gambar: penjuruangin.multiply.com
sumber gambar: penjuruangin.multiply.com

Kembali ke topik, banyak banget alasan kita dalam memilih jodoh. Tapi kaya kata Ojih, ketika kita udah bisa jadi diri sendiri dan ngerasa nyaman, lalu tunggu apa lagi?

Kita terkadang terlalu sibuk melangitkan doa minta jodoh yang ideal sama Tuhan, tapi ketika Dia kirim seseorang yang tulus, kita malah masih sibuk terjebak sama masa lalu. Masa lalu yang gak bisa di wujudkan jadi kenyataan hari ini dan hari-hari seterusnya.

Kita juga kadang suka terjebak sama lubang yang kita gali sendiri. Kita udah berusaha nih membuka hati buat orang baru, tapi masih aja suka membanding-bandingkan sama orang dari masa lalu. Hingga kita seringkali lebih suka berdiri dalam ketidak pastian dari pada mengulurkan tangan menyambut kepastian yang ditawarkan sama orang baru itu, dengan alasan: “Dia kan baru aja datang, saya belum kenal”. Lah, ente kira dulu Nabi Adam sama Bunda Hawa udah saling kenal sebelumnya apa? Belon cing, tapi Beliau berdua langsung jatuh cinta pada pandangan pertama tuh. Yang penting itu bukan udah saling kenal apa belum, tapi bisa gak (atau mau gak) berusaha untuk saling memahami, saling mengerti dan menerima kelebihan yang sepaket dengan kekurangan orang yang baru datang itu. Kriteria boleh aja melangit, tapi ente nyari jodohnya di bumi kan? Begini aja, gak ada orang yang sempurna, yang ada adalah orang yang terus menerus berusaha untuk berubah semakin baik setiap harinya. Sederhana.

Semakin banyak pertimbangan, akan semakin banyak kekhawatiran. Makanya ikutin perintah nabi dong, nabi bilang kalau nyari jodoh itu kriteria utama adalah Agamanya, baru tampang alias fisiknya, kemudian harta baru karena keturunannya. Kenapa nabi kasih Agama yang jadi patokan utama? Karena kalau kata temen saya: “Ketika seorang berani meninggalkan Tuhannya, berarti dia juga gak akan ragu buat ninggalin kamu.” Nah kalau dibalik, berarti seorang yang takut meninggalkan Tuhannya, dia juga akan takut meninggalkan orang yang dicintainya, seorang yang takut membuat Tuhannya marah, dia juga akan takut membuat marah/kecewa orang yang dicintainya. Yakin aja deh, ketika kita milih jodoh karena Allah, maka Allah juga yang akan membantu ketika kelak rumah tangga kita dalam masalah.

Satu lagi nih, masa lalu. Ini yang seringkali bikin kita ketar-ketir ketika ada seorang yang berusaha serius menawarkan diri menggenapkan puzzle kehidupan kita yang kurang. Kita sering berpikir, masa lalu dia baik gak yaaa, dia dulu gimana yaa. Cukup. Setiap orang pasti punya masa lalu masing-masing, mungkin ada satu atau dua bagian gelap yang berusaha di tutupnya, seperti bulan purnama, di balik sisi terang dan indahnya, purnama punya sisi gelap kan? Lalu apa pernah kita komplain dan berusaha melihat sisi gelap purnama itu? enggak kan. Nah that’s the point, kalau Allah aja udah nutupin bagian gelap dari masa lalu seseorang, kenapa kita justru berusaha untuk membongkarnya? Pantas dan tidaknya seorang menjadi jodoh kita itu bukan dengan ukuran manusia, tapi dengan ukuran Allah. Karena kalau pakai ukuran manusia, rasanya gak ada yang pantas bersanding dengan kita yang sempurna ini, tapi Allah punya pandangan lain. Dia tahu betul siapa yang pantas dan siapa yang enggak pantas buat kita.

Ya, Jodoh emang teka-teki dan misteri Allah yang paling unik. Kita cuma bisa menerka-nerka tanpa bisa memastikan. Begitu pun dengan cara kita ketemu jodoh, bisa di mana saja, kapan saja, lewat perantaraan apa saja. Sebagai penutup, gw mau kasih potongan lirik lagunya Pentaboyz nih, perhatiin, dengerin, dan amalin :p

“kalau cinta ya bilang cinta, kalau sayang ya bilang sayang
jangan ditunda-tunda nanti diambil orang”

Gak usah pake lama, kalau emang udah yakin, udah nyaman, udah bisa jadi diri sendiri di depannya, cepetan lamar, gak usah banyak pertimbangan, sebelum disikat orang! hehehe. Selamat berjuang, Mblo 😀

Bang Dudy

Yogyakarta/17/09/2012

 

 

Tawamu ~ Pablo Neruda

Ambil saja nafas ini dariku, jika kamu memohon,
ambil juga udara ini, tapi
jangann ambil dariku tawamu

Jangan ambil mawar
kembang tombak yang kau tusukkan lalu kau cerabut
hingga tiba-tiba air meluap-luap bahagia tanpa henti
gelombang tiban yang melahirkan perak dalam dirimu

Perjuanganku sungguh kasar dan aku kembali
dengan mata lelah
sejak mula melihat dunia yang tak berubah
tapi ketika tawamu lahir
tawa itu melontar ke angkasa dan segera mencariku
dan membuka seluruh pintu-pintu hidupku

Sayangku, dalam masa paling gelap
tawamu hadir, dan tiba-tiba
lihatlah darahku luntur mengotori batu-batu jalan
tertawa, karena tawamu digenggamanku
akan menjelma serupa pedang yang baru ditempa

Di bahu laut musim gugur
tawamu pasti menegakkan bebuih jeram
dan di musim semi, sayangku
tawamu seperti bunga yang kutunggu-tunggu
bunga biru, mawar yang menggema di seantero penjuru

Tawa yang tersangkut di malam
pada hari, pada bulan,
tawa yang berpantul-pantul di jalan-jalan di pulau ini
tawa pada bocah ceroboh yang mencintaimu
tawa berkelebat saat aku memejam dan membuka mata
tawa ketika langkahku maju, ketika langkahku surut
mengingkari tarikan nafas, udara, sinar, semi, tapi
jangan pernah ambil tawamu
atau aku akan binasa

(Pablo Neruda)

*source from Classic Poetry Series Files

Prasangka Baik kepada Allah (Positive #1)

“Seringkali, dalam hidup ini, kita disibukkan dengan keluhan demi keluhan, baik karena waktu yang sempit, rizki yang tidak lancar, pekerjaan yang tidak kunjung datang, bahkan jodoh yang sulit sekali dicari. Kita terlalu sibuk dengan ketidakyakinan, ketakutan, serta kekhawatiran akan tidak dikabulkannya do’a-do’a kita”

Bengkel Budaya

Mestakung atau Semesta Mendukung, kata Yohanes Surya. Alam berkonspirasi, kata Paulo Coelho. Positive thinking, kata para trainer dalam buku-buku motivasinya. Jauh sebelum wacana-wacana tersebut lahir, sebetulnya al-Quran sudah lebih dulu mengatakan bahwa Allah sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya, bahwa cita-cita, keinginan, dan do’a-do’a kita akan dikabulkan manakala kita yakin dengan janji Allah. Kita sebut sikap ini dengan ‘husnuzhan’.

Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku akan bersamanya selama ia mengingat-Ku (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seringkali, dalam hidup ini, kita disibukkan dengan keluhan demi keluhan, baik karena waktu yang sempit, rizki yang tidak lancar, pekerjaan yang tidak kunjung datang, bahkan jodoh yang sulit sekali dicari. Kita terlalu sibuk dengan ketidakyakinan, ketakutan, serta kekhawatiran akan tidak dikabulkannya do’a-do’a kita. Lantas ketika semua usaha telah dilakukan, ketika keringat dan air mata telah kering, ketika kita merasa sendiri, kita berhenti, mengutuki nasib dan menyalahkan takdir. Hingga pada akhirnya, kita berhenti berdo’a karena merasa segala usaha…

Lihat pos aslinya 478 kata lagi