I Can’t Smile Without You

You know I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel sad when you’re sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile without you

You came along just like a song
And brighten my day
Who would of believed that you where part of a dream
Now it all seems light years away

And now you know I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel sad when your sad
I feel glad when you’re glad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile

Now some people say happiness takes so very long to find
Well, I’m finding it hard leaving your love behind me

And you see I can’t smile without you
I can’t smile without you
I can’t laugh and I can’t sing
I’m finding it hard to do anything
You see I feel glad when you’re glad
I feel sad when you’re sad
If you only knew what I’m going through
I just can’t smile without you

[I Can’t Smile Without You, Barry Manilow]

ps: kamu masih suka melihat bulan? aku sering melihat senyum mu disana.

Iklan

Peran Purnama

Aku kehabisan aksara untuk menuliskan rindu. Maka kularungkan saja ia bersama purnama yang bersahaja. Agar segera mengembun, luruh.

Kita tidak pernah bersepakat bukan?
Tentang purnama yang menjadi peraduan dari segala macam rasa. Tentang purnama yang menjadi penyatuan ikatan jiwa. Tentang purnama yang menjadi jembatan daksa.

Purnama telah memilih perannya sendiri Thi. Memilih peran menjadi suluh bagi kerinduan, karena mencintaimu, berarti mencintai segala rahasia yang bersembunyi dibalik  jelaga.

Lalu kini purnama menjadi suarnya. Biar terang semua.

Padepokan Lumut Ijo.
Jogja 18 April 2011

Menanti Janji

Hari sudah gelap. Jarum jam telah mendekat ke angka sembilan. Hujan sudah reda menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Seorang bocah perempuan dengan rambut ala Dora The Explorermenghampiriku yang tengah berdiri menunggu bus. Bocah itu berkulit terang, pakaiannya juga bersih. Tangan mungilnya menarik ujung bajuku.

“Om.. Om..,” katanya.

Aku refleks melihat ke bawah. Bocah itu tingginya hanya sepinggangku. Dia mungkin baru kelas satu atau masih TK. Tangan satunya memegang sebuah nampan kecil berisi enam buah gemblong.

“Mau gemblong Om, enak deh…,” ujarnya membujukku. Belum sempat aku menjawab, dia berkata lagi, “Murah Om, cuma seribu rupiah. Beli ya Om…”

Aku tersenyum. Ada rasa haru di mataku melihatnya. Namun perutku benar-benar belum lapar. Aku menggelengkan kepala seraya meminta maaf. Tapi bocah itu tidak menyerah. Dengan ekspresi wajah yang tetap ceria dia berkata, “Murah Om. Ibuku sendiri lo yang buat. Tuh di sebelah sana…”

Telunjuk mungilnya bergerak mengarah ke seorang ibu yang sedang duduk menunggu gerobak gorengan di atas trotoar. Aku berjongkok dan menatap bocah itu. Kedua matanya begitu bening. Kulitnya bersih.

“Nama kamu siapa?”

“Nila,” ujarnya singkat.

“Sudah kelas berapa?”

Nila tersenyum malu. Wajahnya sedikit menunduk. “Aku belum sekolah Om…”

“Kenapa?”

“Kata ibuku, aku harus ikut jualan dulu biar dapat uang. Kalo ada uang baru bisa sekolah…”

Aku trenyuh mendengarnya. Kedua mataku basah.

“Gemblongnya enak lo, Om… Jadi beli kan?” Bocah itu rupanya tetap fokus pada tugasnya.

Aku tidak sampai hati menolaknya. Aku mengangguk dan mengeluarkan uang sepuluh ribuan. Ah andai aku punya uang lebih di dompet ini….

Nila tersenyum dan mengambil uang itu. Wajahnya jadi lucu. Dia menitipkan nampan itu padaku. “Sebentar ya Om, aku ambil kantung plastik dulu…”

Belum sempat aku menjawab, bocah itu sudah berlari dengan kakinya yang kecil ke aras sang ibu. Sesaat kemudian tangannya sudah memegang plastik putih kecil.

“Sini Om, kuenya dimasukkan ke dalam plastik dulu. Ini kembaliannya…,” ujarnya seraya menyerahkan uang seribuan empat lembar. Aku tersenyum dan menggeleng.

“Kembaliannya ambil aja, buat jajan kamu…”

Nila tersenyum lebar, “Terima kasih ya Om!” Dia kemudian melompat-lompat riang mendekati ibunya.

Aku terus melihatnya dari jauh. Bocah kecil itu mengatakan sesuatu pada ibunya dan meneruskan bermain sendirian di taman. Di dalam bus, aku melempar pandangan ke luar jendela kaca yang sudah buram. Sepanjang jalan, anak-anak sebaya Nila, bahkan bayi dan yang baru bisa berjalan, tampak di mana-mana. Anak-anak jalanan di Ibukota ini terus aja bertambah. Dan ini adalah indikator paling sederhana yang bisa menunjukkan jika orang miskin di Indonesia kian hari kian bertambah banyak.

Entah mengapa aku ingat janji Menteri Sosial Salim Segaf al-Jufri yang berkata, “Akhir 2011 nggak ada lagi anak jalanan di Jakarta.” Mensos mengucapkan janji ini di Kantor Wakil Presiden, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (21/12/2010). “Mereka akan disekolahkan, dan sebagian (dari) mereka yang di-DO (drop out) atau putus sekolah akan diberi pelatihan-pelatihan.”

Mensos juga menyatakan jika pihaknya berupaya menaikkan anggaran untuk anak jalanan sebesar 4 persen dari seluruh anggaran Kemensos, atau sekitar Rp 271 miliar.

Aku tersenyum sendiri. Sejak Orde Barunya Harto sampai sekarang, logika pejabatnya sama saja. Kenaikan anggaran dianggapnya bisa mengintensifkan penuntasan masalah yang ada. Logika ini sesungguhnya benar, jika seluruh aparat pelaksananya amanah. Jika anggaran yang disediakan untuk menuntaskan masalah anak jalanan sebesar Rp 100 miliar, misalnya, maka anggaran sebesar itu akan sungguh-sungguh digunakan untuk menuntaskan masalah anak jalanan.

Namun kita semua sudah tahu, semua jajaran birokrat (99,999%-nya) bermental korup. Bukan isapan jempol jika di banyak departemen, ‘tingkat kebocoran’ anggaran mencapai 80% dan hanya 20%-nya yang benar-benar digunakan untuk proyek yang sesungguhnya. Ini kesaksian dari sejumlah ‘orang dalam’. Inilah faktanya.

Sebab itulah, saya haqqul yaqin jika di akhir tahun 2011 ini, anak-anak jalanan di Jakarta bukannya menghilang, namun akan berlipat-lipat banyaknya.

Di sisi lain, janji-janji para pejabat publik, seharusnya ditulis di sehelai kertas bermaterai berikut sanksi-sanksinya. Jika dia tidak mampu memenuhi janjinya, maka dia harus ikhlas bin rela binti legowo untuk mundur dari jabatanya karena memang tidak mampu memenuhi target kerja. Seorang salesman atau debt collector saja memiliki target kerja berikut sanksi-sanksinya jika gagal memenuhi target itu, maka apatah lagi seorang pejabat publik setingkat menteri yang sudah dilimpahi berbagai kenikmatan fasilitas mewah yang ada, dari gaji dan tunjangan yang besar, rumah dinas nyaman, dan mobil mewah berharga miliaran rupiah, yang semua kenikmatan itu hasil memeras uang rakyat.

Terkait janji Mensos yang mengatakan anak-anak jalanan akan hilang dari ibukota di akhir 2011, maka sekarang kita tinggal wait and see saja. Jika terpenuhi alhamdulillah, Mensos seperti ini harus tetap dipertahankan terus walau mungkin presiden bisa berganti, agar anak-anak jalanan dan juga orang-orang miskin bisa naik kelas menjadi anak-anak berpendidikan dan menjadi orang-orang berkesejahteraan. Namun jika tidak terpenuhi, maka mundur saja tanpa harus didesak siapa pun . Itu akan jauh lebih bermartabat. Kita tunggu saja. [rz]

dari http://www.eramuslim.com link aslinya ada disini

sumber gambar adianfuadi.wordpress.com

Kerja Cinta

“Beginilah cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta; Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada disekitarnya. Jika ia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memerhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyarahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila” [Tasaro GK : Galaksi Kinanthi]

sumber gambar: http://www.alfinimous.thumblr.com

Tidak Sendiri Lagi

Oke, mulai hari ini 16 April 2011 saya resmi tidak sendiri lagi.

Eh penonton dan para fans serta penggemar setia saya.. Jangan pada kecewa ya, ini bukan masalah relationship kok, hhe*jitakin bareng2. Ini perkara rumah, saya sudah tidak sendiri lagi menempati rumah ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengajak Putra Hona Nurpratama alias Uta untuk menemani, saya berbagi rumah.

Ada banyak alasan kenapa akhirnya saya memutuskan untuk tidak tinggal sendiri lagi, diantaranya adalah:

Biar ada temen ngobrol. Sejak menempati rumah ini selama empat bulan terakhir, saya betul merasakan sepi gak ada temen ngobrol gitu istilahnya, apa lagi kalau malam menjelang atau pas pulang selepas beraktifitas, pas buka pintu rumah, Plong… sunyi senyap. Walau pun memang rumah saya nggak pernah bener-bener sepi sih, terutama dari siang sampai jam 10 malam, karena manusia-manusia  baik dari Partikel, The Meridian Institute, maupun Front Sosialis Bertauhid ada aja yang beranjangsana ke rumah, sekadar untuk ngobrol ngalor-ngidul, bahas tema yang kadang nggak begitu penting sambil ditemani kopi pekat atau teh coklat. Tapi itu semua di bawah jam 10 malam, karena nggak enak sama tetangga kalau larut malam masih keliatan rame, takut ngeganggu.

Biar mental dan jiwa semakin Sehat. Namanya manusia biasa yang hidup di akhir  zaman, godaan buat macem-macem pasti besar kan? Apa lagi kalau sendirian, kadang suka lepas kendali, ngerasa nggak ada yang tau, bisa berkehendak terserah yang dimau. Walau pun selama ini Alhamdulillah saya nggak pernah berbuat macem-macem, tapi dorongan nya selalu ada, maklum lah darah muda. Nah, punya homemate mungkin bisa jadi salah satu alternatif pencegahannya, setidaknya pasti akan ada perasaan yang nggak enak sama yang bersangkutan sebelum berbuat yang macem-macem. Eh emang berbuat yang macem-macem itu apaan sih? Misalnya nih, karena ngerasa sendirian tiba-tiba kita makan nasi pake pisang goring sama pepes tape, hhe, jayuss. Yaa you know so well lah (kaga pake me, haha)

Biar ada yang nombokin bayar listrik. Rejeki kan siapa yang tahu, rahasia Allah itu mah. Bisa jadi bulan ini kebanjiran eh bulan depannya seret kaya sumur dimusim kemarau, nah biasanya kalau lagi kemarau kan ada istilah pengetatan budget tuh, tapi yang saya mah tetep aja susah, nggak punya duit tapi tetep pengen makan enak, jadi aja lah listrik nunggak, iya kalau cuma nunggak satu bulan, kalau berbulan-bulan? Bisa diputusin sama PLN lah hubungan kita, hhe. Nah kalau berdua kan berarti listriknya ditanggung bersama tuh, artinya bisa lebih ringan bayarnya, dan kalau kepepet.. bisa ada yang nombokin dulu buat bayarnya, hahaha :devilish:

Kayanya tiga alasan itu deh yang bikin saya memutuskan buat berbagi rumah, eh iya sejak sepekan terakhir rumah saya udah dikasih nama loh sama kawan-kawan Front Sosialis Bertauhid, Padepokan Ijo Jogja namanya, hahaha, saya sih cuman ketawa aja, tampang aja itu anak-anak F-Sosbet pada sangar, giliran ngasih nama malah “unyu” banget yang keluar.

Sudah dulu ah ceritanya, saya mau berburu data lagi demi skripsi yang HARUS dituntaskan bulan JUNI. Eh, perasaan postingan kali ini ada yang beda deh, emm.. apaan yah?

Oh iya, dipostingan ini, muncul tokoh ‘saya’ menggantikan ‘gw’ dengan dialek sunda yang dipaksakan, hhe, ganti style sekali-kali boleh kan? ^^

Melepas Menemukan [sebuah monolog]

Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa masih memilikinya
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Akhirnya aku tersadar Ri, walau bagaimanapun kita tidak pernah bisa memaksa takdir. Boleh jadi orang bilang takdir  harus dikejar, tapi terlalu naïf rasanya jika kita masih coba untuk memaksakan kehendak padahal alam tak merestui serentak.

Pernah aku merasa sangat yakin dengan cinta, seperti kebanyakan orang bilang. Tapi nyatanya ia tak lebih dari sebuah keindahan yang hanya bisa kau kagumi, seperti pelangi. Keujung bumi pun tak kan dapat kau temukan pangkalnya.

Aku mulai berpikir bahwa cinta hanya fatamorgana, ilusi mata, penghias kata dan pemanis berjuta sajak. Cintapun kemudian hari menjadi komoditi yang memiliki harga tinggi. Lihat lah Ri, semua yang memakai nama cinta pasti menjadi laris, novel, roman, film, sajak, bahkan suratku ini pun tak luput darinya.

Lepas Ri, aku ingin kau melepaskan ku seperti aku yang berusaha melepaskanmu

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Kita tak bisa terus berdinding kata Ri, aku mau kita bicara dengan kalimat yang biasa saja. Bukan dengan berbagai metafora yang aku harus terbata mengejanya, malah kadang ku salah tafsir pula. Aku ingin kita bicara dengan kalimat yang biasa saja. Sederhana dan apa adanya.

Sederhana, seperti ungkapan cinta langit kepada bumi lewat hujan.

Sederhana, seperti elusan lembut seorang ibu di kepala anaknya.

Sederhana, seperti tepukan tegas seorang bapak di bahu puteranya yang baru saja berhasil memenangkan perkelahian kecil dengan kawan sebaya.

Bahasa yang sederhana Ri, persoalan kita terlalu rumit jika kau masih asyik bercumbu dengan metafora. Lunglai jiwa ini terus menghitung purnama yang silih berganti rupa, sedangkan kita masih tetap seperti dulu berlaga lugu, sambil sesekali menipu diri dengan pergantian matari ditiap senja yang menjejak biru diufuk kalbu.

Lepas Ri, aku ingin kau melepaskan ku seperti aku yang berusaha melepaskanmu.

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Dulu aku memang pernah merasa memiliki mu, aku rasa kau pun begitu. Kini biarkan lah saja ia menjadi serangkaian antologi kisah, perkara indah atau tidak itu persepsi bukan?

Kini kau dengan jalan mu, aku dengan jalan ku.

Ini bukan deklarasi perpisahan Ri, karena aku tak pernah mampu berpisah denganmu, sungguh. Ini ungkapan pelepasan Ri, melepas kan bukan berarti tak lagi saling bertautan.

Aku yakin kau masih ingat saat lalu kita melepas sepasang merpati di halaman rumah jingga, saat itu kau khawatir si putih tak kan kembali lagi.

“memang si putih ingat jalan kembali?”

“pasti, karena abu-abunya masih disini”

Begitu percakapan kita waktu lalu, itu jadi satu bukti Ri, melepas bukan berarti tak lagi membangun jiwa.

Dan kelak, seperti ucapan klasik dalam banyak roman;

Jika semesta berkendak, siputih itu akan kembali menjumpai sang abu. Saat keduanya dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang, dengan jiwa yang lebih erat tersimpul saur.

Selamat berkembara Ri, aku disini tetap meneruskan keteraturan menghitung purnama keberapakah kau akan bicara sederhana, apa adanya.

Berharap setiap hari menjadi hujan.

Dhieaje Padepokan Ijo Jogja, 140411

terimakasih buat letto yang lirik memiliki kehilangannya bersedia saya pinjam.

Vespa Raga Jiwa

Kau selalu temaniku dalam sepi,

Saat bersama kita lalui

Puluhan bahkan ratusan kilometer

Jalan yang membentang, panjang.

Kau selalu mengerti kemauanku,

Walaupun terkadang aku harus meneguhkan kesabaran,

Saat kau mulai merengek dan merajuk manja,

Saat itu lah, kesabaran di uji.

Merayumu di kegelapan malam yang sunyi di tengah jalan.

Untuk mau kembali tersenyum dan kembali meneruskan

Pengembaraan.

Juga saat kakimu tiba-tiba terkilir,

Aku dengan perlahan,

Memberikan penawar agar kita bisa tetap

Melanjutkan perjuangan.

Peristiwa demi peristiwa telah kita lalui,

Makin meneguhkan kita sebagai kawan sejati.

Tempat berbagi,

Bahkan di saat semuanya pergi.

Kukut,

Aku benar – benar rindu padamu.

Tak terkira berapa kisah yang telah kita lalui bersama.

Keliling kota dengan bangga.

Ingin ku katakan pada mereka yang selama ini mencibir,

Nyinyir.

“ Apapun yang kalian katakan, bagiku…

Yang terbaik tetaplah Kukut biru..”

Kini,

Enam belas hari sudah kau terbaring lemah

Terlalu banyak mengkonsumsi bensin katanya.

Sehingga demi lancarnya petualangan kita selanjutnya

Terpaksa tadi menjelang petang

kau ku titipkan di tempat Om gondrong,

Untuk mendapatkan perawatan intensif.

Agar semakin agresif dan responsif

Saat kau sehat nanti,

Kita kan kembali ke jalan.

Dan membuktikan pada dunia

Bahwa,

“Lebih baik bervespa dengan akhlak mulia”

Monolog jujur dan norak

padepokan ijo jogja

dhieaje

Untuk Separuh Jiwa

Kau kirimkan aku sepenggal nada

Yang tersembunyi di balik mentari

Padanya ku turut bernyanyi

Larut dalam kesyahduan tembang ilalang

Ku tangkap gurat-gurat kesempurnaan

Terukir indah diatas piano berdawai empat

Coba bebaskan diri dari jeratan nada murni

Selaksa cahaya kucoba lesatkan keangkasa

Memohon harap padaNya

Agar tak makin berpanjangan asa tak terduga

Ku tangkap gurat-gurat kesempurnaan

Terukir indah diatas piano berdawai empat

Menggenggam sejumput doa

Bernada rendah dengan oktaf yang biasa saja

Kuhaturkan sebalur cinta

Yang juga sangat sederhana

Kepada separuh jiwa…

Berharap jogja selalu menjadi kota hujan

Padepokan Ijo Jogja

dhieaje

Pesawat Kertas [sebuah cerita]

kulipat pesawat kertas yang kubuat

lalu kuangin-anginkan bagai nasib

sedikit kulukis, lalu kulihat senyum

seperti engkau yang mengasingkanku

Tembikar itu akhirnya pecah juga, aku yang memecahkannya. Entah kenapa tiba-tiba aku kalap dan menyambar apa saja yang ada disekitar ku, sejak engkau mengasingkanku, lantaran aku tak pernah bisa melipat dengan sempurna pesawat kertas yang kau mau.

“Membuat pesawat kertas itu perlu presisi, Han. Bagaimana nanti bisa diterbangkan kalau sayap kanan dan kirinya besar sebelah?”

“Aku menyerah Ti, aku tidak punya bakat melipat apalagi menerbangkan”

Hening, yang terdengar kemudian hanya desau angin, merajah sukma ku untuk meninggalkan daksa. Bangkit aku, lalu sejenak meregangkan otot yang mulai tegang, dan tahu aku saat itu lah episode kau mengasingkan ku dimulai. Aku mengerti, kau marah karena aku menyarah, tapi apa hendak dikata?

kulihat pesawat kertas yang kubikin

dengan hati tanpa rasa, sungguh miskin

lalu kuingat-ingat saat kau menangis

kuusap pipimu bagai kuas, aku melukis

Berkelindan bayangan remah-remah sisa pesawat kertas yang gagal kita – aku- buat. Tak satupun berbentuk. Benar katamu Ti, ini bukan masalah bakat, tapi masalah kemauan. Aku ternyata tidak punya cukup kemauan untuk membuat pesawat kertas seperti keinginanmu.

Tapi yakin lah Ti, aku terus berusaha meski kau tak tahu. Ini semua demi kamu, semua untuk kamu Ti, untuk keinginanmu menerbangkan pesawat kita.

“Han, aku ingin nanti kita mencatatkan semua mimpi di pesawat buatan mu, agar ia terbang tinggi menggapai langit, lalu menyerahkan segala mimpi yang tercatatkan di pesawat kertas itu kepada sang pemilik matari”

jika ini perahu, kolam akan menyambutmu

ini pesawat, yang langit akan merawatmu

ini adalah aku, engkaulah sandaranku

jika ini kamu, akulah peneduhmu…

Saat ini aku masih terus mencoba Ti, biar hilang separuh waktu. Entah akan kau panggil apa nanti, yang aku tahu tugasku sekarang adalah terus melipat kertas-kertas ini, demi mendapatkan senyum mu lagi,

Tidak, aku tak hirau lagi akan membentuk seperti apa, cukup ku ikuti instruksimu:

“presisi”

Biarlah kalau menjadi perahu, akan ku larung ia ke parit samping rumah kita, agara bisa bermuara ke samudera, meleburkan impian mu dengan kehendak Sang Penguasa Samudera Raya.

Atau kalau memang membentuk pesawat, akan ku hadiahkan untuk mu, aku tidak perlu mencatatkan segala mimpi, cukup Ti, mimpimu itu juga mimpiku.

Biarlah kau yang menerbangkannya, agar langit bisa merawatnya. Menyampaikan semua harapanmu pada Sang Maha Kuasa, aku senang melihat senyummu, itu sudah lebih dari cukup buatku.  Ini aku, engkaulah sandaranku. Jika ini kamu, akulah peneduhmu.

Padepokan Ijo Jogja, 14 April 2011

Dhieaje.

Spesial terimakasih buat Kang Ahmad Basri Affandi untuk puisi Pesawat Kertasnya.

sumber gambar: tikathinksthings.co.cc

Untaian Mutiara Imam Syafi’i

MERANTAULAH

Orang pandai dan beradab tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah ‘kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia ‘kan keruh menggenang
Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan

TIPUAN PALSU
Aku melihat tipu muslihat dunia,
tatkala ia bertenggerdi atas kepala-kepala manusia,
dan membincangkan manusia-manusia yang terkena
tipunya.
Bagi mereka,
Orang sepertiku tampak amat tak berharga.
Aku disamakan olehnya,
dengan anak kecil yang sedang bermain di jalanan.

MENCINTAI AKHIRAT
Duhai orang yang senang memeluk dunia fana,
Yang tak kenal pagi dan sore dalam mencari dunia,
Hendaklah engkau tinggalkan pelukan mesramu,
kepada duniamu itu.
Karena kelak engkau akan berpelukan,
Dengan bidadari di surga.
Apabila engkau harap menjadi penghuni surga abadi,
maka hindarilah jalan menuju api neraka.

RENDAH HATI
Bagaimana mungkin kita dapat sampai ke Sa’ad,
Sementara di sekitarnya terdapat gunung-gunung
dan tebing-tebing.Padahal aku tak beralas kaki,
dan tak berkendaraan.
Tanganku pun kosong dan,
jalan ke sana amat mengerikan.

TENTANG CINTA
Engkau durhaka kepada Allah,
dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya.
Ini adalah suatu kemustahilan.
Apabila benar engkau mencintai-Nya,
pastilah engkau taati semua perintah-Nya.
Sesungguhnya orang menaruh cinta,
Tentulah bersedia mentaati perintah orang yang dicintainya.
Dia telah kirimkan nikmat-Nya kepadamu,
setiap saat dan tak ada rasa syukur,
yang engkau panjatkan kepada-Nya.

KEPUASAN (QANA’AH)
Aku melihat bahwa kepuasan itu pangkal kekayaan,
lalu kupegang erat-erat ujungnya.
Aku ingin menjadi orang kaya tanpa harta,
dan memerintah bak seorang raja.

ANUGRAH ALLAH
Aku melihat-Mu pada saat penciptaanku,
yang penuh dengan anugerah.
Engkaulah sumber satu-satunya,
pada saat penciptaanku.
Hidarkan aku dari anugerah yang buruk.
Karena sepotong kehidupan telah cukup bagiku,
hingga saat Engkau mematikanku.

gambar dari google images