“Langit adalah arenamu, terbanglah. Aku tidak akan berkata apa-apa. Ini bukan sebuah pengorbanan. Sebab, aku memang tak pernah berhak atasmu. Engkau akan selalu menjadi keajaiban bagiku. Bahkan diammu, dulu.”
(Galaksi Kinanthi, hal. 11)
“Cinta itu cuma ilusi,Wi! cinta tercipta atas dasar ketakutan manusia menghadapi kehidupan, karenanya manusia kemudian menciptakan cinta demi mendapat keberanian”
Sore tadi kami berdebat keras tentang cinta. Rey, lelaki yang telah aku kenal dan menjadi sahabatku lima belas tahun terakhir ini memang bukan orang yang percaya dengan cinta –setidaknya menurut pengakuannya-. Sepanjang hidup nya, dia selalu berpendapat bahwa relasi antara manusia dengan manusia lain hanyalah berasas kan kepentingan.
“Manusia saling berinteraksi karena satu sama lain memiliki kepentingan. Hidup ini jual beli, kamu harus berpikir untung rugi” tegasnya.
“even sama sahabat sendiri, Rey?” Sergahku.
“maybe”
“you know what, kamu bilang kaya gini karena kamu baru aja kecewa sama cinta, Rey. Ah come on, itu lah seninya. Dari awal aku selalu bilang sama kamu, bahwa mencintai itu sepaket dengan sakitnya” aku coba memberi rasionalisasi dari kegelisahannya.
“Yes, justru itu, Wi. Kamu tahu kan sampai bulan lalu saya masih baik-baik aja, bisnis saya lancar bahkan grafik order studio naik dengan sangat menggembirakan, semua berjalan sempurna,saat saya masih percaya bahwa cinta itu hanya candu yang melemahkan. Dan terbukti kan, ketika saya membuka hati justru semua hancur berantakan. Awalnya saya memang berharap dapat mengimani cinta seperti yang kamu lakukan. Tapi kamu lihat sendiri hasilnya, saya justru terjerembab, Dewi!” Perlahan Rey terlihat mengatur nafas yang tersengal, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Seolah mencari pembenaran dari tiap kalimat yang dia muntahkan.
Ini adalah pertama kalinya kami berbicara tentang cinta dalam wujud yang lebih nyata, bicara tentang cinta setelah ia mengalaminya sendiri. Rey memang pernah menaruh hati pada seorang wanita, sepuluh tahun lalu. Dan selama sepuluh tahun itu perasaan-nya selalu dipendam. Mungkin hanya aku yang tahu betapa ia sangat mencintai wanita itu, tapi sayang cintanya tidak pernah mengalami kemajuan lantaran Rey selalu mundur saat aku minta ia bicara kepada sang wanita. “dia terlalu istimewa, saya takut justru kehilangan dia”, begitu alasan yang selalu diulang-ulangnya. Anehnya Rey selalu menolak perasaannya di sebut cinta, asbrud memang.
Ya, sampai akhirnya pertengahan bulan lalu Rey memutuskan untuk mencoba melabuhkan perahunya pada wanita lain. Aku awalnya khawatir betul, khawatir Rey masih berada di bawah bayang-bayang wanitanya. Tapi ia justru berkali-kali meyakinkan aku, bahwa ia sungguh-sungguh siap untuk move on dari wanita yang telah sepuluh tahun di cintai-nya diam-diam. Melihat kesungguhannya, aku hanya bisa mengingatkan untuk berjalan pelan-pelan, sembari mendoakan dalam hati.
“Berikan hati mu bertahap, Rey. Pelan-pelan saja, enggak perlu terburu. Biar kalian sama nyaman.” Saran ku waktu itu, ketika ia meminta pendapat.
“Baiklah, I’ll try, Dewi” singkat saja, kemudian ia berlalu. Pada punggungnya aku bekal kan doa bahagia. Tapi ternyata, sore tadi justru ia kembali datang dengan kecewa.
***BangDudy***
Sungguh bukan perkara mudah menyembuhkan hati manusia yang sedang terluka, karena sejatinya luka itu hanya bisa sembuh atas izin sang empunya hati itu sendiri, pemiliknya. Berbuih busa kita sudah bicara, yang terjadi hanya dianggap angin lalu. Benar memang orang tua bilang: “Yang sakit hati sebetulnya hanya ingin di dengarkan, maka siapkan lah telinga dan jiwa mu, karena dia akan menceritakan kisahnya yang bisa jadi ribuan kali akan diulang-ulang.”
Ini kali ke empat puluh lima Rey datang, sejak kisahnya selesai dengan Andin dalam hitungan hari, Rey tak pernah alpha datang ke rumah ku, setidaknya dua kali sepekan, bercerita tentang kejatuhannya, lalu kembali memaki cinta. Kali ini aku memilih jadi pendengar yang baik. Menunggu Rey menyelesaikan ceritanya, menyaksikannya mengela nafas panjang, lalu mengedarkan ia akan pandangannya keluar. Ketika ia selesai berkisah, aku baru angkat bicara.
Aku mengajaknya membuka jiwa, melihat dunia. Hidup memang seringkali tidak mudah. Tapi menjadi berani menghadapi dan menjalani hidup adalah satu-satunya pilihan. Hidup dengan keberanian adalah hidup yang dijalani dengan keikhlasan atas setiap keputusan Tuhan setelah manusia maksimal berusaha.
“Kamu seorang pengusaha Rey, aku yakin kamu paham betul apa itu investasi”
“Bicara lah benderang, Wi. Saya bukan ahli filsafat yang mengerti makna tersirat”
“Begini Reyhan, ketika memutuskan untuk investasi, kamu pasti paham kan bahwa keuntungan itu berbanding lurus dengan kerugian. Lalu besarnya modal yang kamu investasikan juga berpengaruh pada keuntungan yang akan kamu tuai jika investasi itu berbuah laba…”
“Iya, lalu?” Rey nampaknya mulai tidak sabar untuk mengetahui kemana arah pembicaraan ku. Tapi aku justru sengaja berbicara dengan bahasa kesehariannya, bahasa perniagaan.
“Nah, anggaplah sekarang kamu sedang investasi pada bisnis baru. Kita beri nama bisnis ini Proyek Kata Hati. Rulesnya adalah: kamu investasikan hati mu. Eskpektasinya memang mendapatkan laba, yakni cinta yang bertaut, tapi jika kerugian yang justru di dera berupa kecewa, ya apalah daya”
Aku biarkan Rey mengunyah kalimatku perlahan, sembari menghirup segar teh hijau yang terhidang, kembali ku lanjutkan “Sekarang kamu sedang memetik hasilnya, tapi saat ini harus berbesar jiwa karena rupanya keberuntungan sedang tidak berpihak pada anda, hehehe. Alih-alih mendapatkan cinta yang bertaut, Andin justru pergi meninggalkan mu. Oke, anggaplah ini sebuah pelajaran, karena ini bidang bisnis yang baru bukan? Pertanyaan selanjutnya adalah, ada tawaran investasi lagi pada bidang yang sama, tapi dengan “company” yang berbeda, tawaran ini menjanjikan keuntungan yang berlipat dari investasi sebelumnya, tapi resikonya juga besar. Sebagai seorang pengusaha, kamu akan ambil atau tidak tawaran itu?”
“Tidak ada pilihan lain buat saya, Wi?”
“Yap, pilihannya hanya: take it or leave it! Kecuali kamu sudah alih profesi jadi pegawai negeri seperti suamiku, hehe.”
“Okay, saya coba ikuti game kamu ini, saya coba ambil kalau begitu..”
“Masih mau coba-coba, Rey? Gak niat serius aja?” goda ku.
“aish, baik lah, saya ambil, serius”
“Selamat, bapak telah membuat keputusan besar, hehe” ku jabat tangan Rey.
“Saya harus investasi kemana?”
“Good question, bro! Sekarang kamu siapkan hati, investasi ke wulan!”
“Hah!, Secepat itu saya harus berpindah hati?”
“Kamu lelaki kan, Rey? Lagi pula, apa kamu pernah berpindah hati dalam arti sesunguhnya selama sepuluh tahun belakangan ini dari wulan? Enggak Rey. Kamu bisa bilang hubungan mu dengan Andin kemarin serius, tapi nyatanya enggak lebih dari hitungan hari kan? Sejujurnya Rey, kamu masih ada dalam bayang-bayang wulan”
“Iya, tapi, Wi..”
“Reyhan, aku gak perlu lagi kan ngejelasin ke kamu keuntungan yang bakal kamu dapatkan kalau kamu ambil kesempatan ini, sepuluh tahun kamu Cuma memendam perasaan, lalu menyelimutinya dengan pura-pura enggak percaya cinta, padahal kamu jelas-jelas pemuja cinta. ketakutan-ketakutan kamu semua enggak beralasan. Sekali lagi aku tanya, kamu ini perempuan atau lelaki, Rey?”
“Wi, masalahnya…”
“Kamu enggak perlu nyanggah lagi Reyhan, seusia kita ini harusnya udah enggak lagi berurusan sama yang seperti ini, kita harusnya udah bahagia bersama keluarga. Apa kamu engak iri tiap main ke sini ngeliat aku dan keluarga berbagi cinta?”
“Terus saya harus mulai dari mana? Saya jahat gak sih kalau begini?”
“Kalau kamu ngerasa jahat ya lepasin Wulan dong sekarang juga, kamu gak perlu berharap lagi sama dia. Tapi kamu harus ingat, menyembuhkan sakit itu lebih mudah ketimbang menghilangkan penyesalan. Kesempatan gak pernah ada buat yang kedua kali. Kamu hanya tinggal datang ke Wulan, bicara dengan jiwa, biarkan jiwa mu yang berkalimat, tutup rapat mulutmu. Kata tak pernah bisa sempurna mengungkapkan cinta”
“Baiklah, saya coba”
Aku kembali melepas Rey dengan membekali setangkup doa pada punggungnya, namun tidak ada kecemasan sedikit pun. Entah dari mana datangnya, investasi Rey kali ini, aku yakin betul akan berbuah keutungan berlipat ganda. Semoga.
Yk, 27.03.12
-Aha, gw berhasil memecahkan writer’s block yang lebih dari tiga bulan membelenggu, walaupun dengan cerita picisan model begini, hehehe.
Ditulis dalam cerpen, cinta | Bertanda bisnis, candu, Cerpen, cinta, imagine, jendela, kalimat, nafas, optimis, pilihan | Tinggalkan sebuah Komentar »
Ini postingan pertama kali sejak 14 Desember lalu, hehe. Gara-gara twitter nih, perasaan udah ngeblog, padahal belum *alibi*.
Banyak banget yang terjadi 3 bulan terakhir, mulai dari lulus sidang tanggal 11.11.11 lalu, terus wisuda, terus ini, dan terus itu. Entah kenapa selulusnya kuliah gw bener-bener ninggalin zona nyaman yang selama ini gw tempatin, gw “keliling” ke sana-sini, nyari tantangan, nyari pelajaran. Gw cuma berpikir, rasanya memang hidup manusia gak bisa datar begitu aja. Life is never flat..
Maka bermula lah petualangan gw, ninggalin banyak hal yang selama ini udah mapan dalam diri gw, mulai dari seperangkat nilai yang orang sebut dengan keyakinan, sampai dengan cara pandang. Gw mulai membuka mata lebar-lebar dan nemuin kenyataan bahwa dunia itu nggak hitam-putih. Banyak banget warnanya, dan kita bisa milih warna itu sesuka hati. Hidup bukan cuma perkara benar-salah, tapi juga “karena apa?”
Bertemu dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, tingkah laku, dan problemnya bikin gw semakin yakin bahwa hidup gak pernah bisa kita selesaikan sendiri. Saling tolong menolong menjadi kunci harmonisasi kehidupan.
Bersentuhan dengan berbagai ideologi bikin gw yakin, bahwa manusia punya akal dan pikiran untuk menginterpretasi kenyataan. Yang di perlukan adalah saling memahami, meluruskan tanpa menyalahkan.
Dan cinta juga jadi salah satu warna yang menarik itu bukan?
Sebagai “manusia bebas”, gw meyakini bahwa tidak ada ketundukan yang mutlak selain kepada Allah dan RasulNya. Tapi ternyata idealisme itu memang baru bisa terbukti saat terbentur dengan kenyataan, masih bisa gak idealisme lu itu bertahan. Kenyataan membuat keyakinan kita dewasa.
Ah, ini gw sebenernya mau nulis apaan sih? hehehe.
Ya intinya sih gw cuma mau cerita banyak banget hal yang gw lakuin selama 3 bulan terakhir ini, dan semua itu jauh dari zona nyaman yang selama ini gw ngerasa udah mapan. Maka akhirnya gw setuju sama orang yang bilang “kemapanan itu candu” . :cheers:
Yk, 23.03.12
BangDudy
Ditulis dalam lepas, pribadi, The journal | Bertanda berbeda, bergerak, cerita hidup, hitam putih, kehidupan, kesadaran, pergi jauh, perjuangan, saling memahami, tolong menolong | Tinggalkan sebuah Komentar »
Dulu kau begitu yakin bahwa Revolusi pasti terjadi
tapi kini diam-diam kau mencela aksi massa yang jadi salah satu elemen revolusi.
Dulu kau yang menceritakan kepadaku,
begitu gagahnya Che, Marcos, Ali Syariati, Al-Banna, Bung Tomo, Pak Dirman, dan Bung Karno
memperjuangkan sesuatu yang mereka panggil “perubahan”
tapi kini kau mendurhakai mereka, memilih bergabung dengan orang-orang yang memberimu perut kenyang.
Dulu kau yakin bahwa tiap perjuangan membutuhkan pengorbanan
tapi kini secara lantang kau menentang tiap usaha untuk “pembebasan”
Perlahan kau yakin bahwa hidup memang harus masuk alur produksi
Lahir-Sekolah-Bekerja-Mati
Tak ada lagi harga untuk berlawan.
Belum lagi kau benar-benar mapan
kau sudah mulai ingkar
meyakini bahwa perubahan bisa di lakukan perlahan
padahal dulu,
dengan berapi-api kau bilang padaku: “tidak pernah ada waktu untuk keterlambatan”
Bahkan ketika orang-orang yang dulu kau akrabi: tani, buruh, dan kaum miskin kota
berpanas-panas ria turun kejalan demi bertahan menghadapi gempuran kejam modal,
sembari mengibaskan korang kau bilang: “harusnya mereka tahu diri, ikut saja apa kata pemerintah”
Terakhir kawan mu membakar diri menjadi martir revolusi.
Tapi apa kau kata: “Ah, sia-sia. Toh aku dan dia beda ideologi”
Dengan apa aku harus membawa mu kembali, kawan?
Yk 14/12/12
Bang Dudy
-berharap ide dan cita-cita tentang Revolusi Indonesia yang dulu selalu menggelegak memenuhi dada tidak berhenti pada satu masa bernama: wisuda-
Ditulis dalam negeri, sajak | Bertanda bergerak, kesadaran, lawan, negeri, pilihan, politik, protes, puisi | 12 Komentar »